Keterangan Gambar : Ilustrasi Hariyanto Nongkojajar tutur ubah klethong jadi Energi Gas LPG
H. Hariyanto, Warga Pasuruan Sulap Klethong Sapi Jadi Gas LPG, Raih Kalpataru dari Presiden SBY*
PASURUAN* Kepedulian terhadap lingkungan mengantarkan H. Hariyanto, warga Desa Bandaran, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, meraih Penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan Tahun 2012 dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup itu diberikan atas inisiatif Hariyanto mengolah _klethong_ atau kotoran sapi menjadi biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti LPG untuk kebutuhan memasak sehari-hari warga.
Berawal dari Bau & Keluhan Warga*
Ditemui di kediamanya Kamis (23/6), H. Hariyanto bercerita bahwa ide itu muncul tahun 2008. Saat itu, kandang sapi komunal di desanya menumpuk kotoran hingga 2 ton per hari.
“Bau menyengat, air lindi mencemari sumur, warga protes. Saya mikir, _klethong_ ini kalau dibiarkan jadi masalah. Tapi kalau diolah, bisa jadi berkah,” ujar pria yang juga Ketua Kelompok Tani Ternak “Sido Dadi” itu.
Berbekal pelatihan dari Dinas Peternakan dan otodidak, Hariyanto mulai membangun reaktor biogas sederhana berkapasitas 6 m³ dari beton di belakang rumahnya. Modal awal Rp. 7 juta didapat dari patungan 15 peternak.
1 Kg Klethong = 2 Jam Api Biru*
Cara kerjanya, klethong sapi dicampur air dengan perbandingan 1:1, lalu dimasukkan ke digester kedap udara. Bakteri anaerob mengurai kotoran dan menghasilkan gas metana.
“Dari 20 kg klethong basah per hari, bisa dapat gas setara 0,5 kg LPG. Cukup buat masak keluarga saya 2-3 jam. Api biru, nggak bau,” jelas Hariyanto sambil menunjukkan kompor biogas di dapurnya.
Kini, sudah ada 35 unit reaktor biogas tersebar di 4 desa: Wonosari dan sekitarnya, Total 120 KK merasakan manfaat. Penghematan warga mencapai Rp. 90 ribu–Rp150 ribu per bulan per KK karena tidak perlu beli LPG 3 kg.
*Sisa Jadi Pupuk, Zero Waste*
Tak berhenti di gas, limbah _slurry_ sisa biogas dimanfaatkan jadi pupuk organik cair dan padat.
“Hasilnya sawah saya lebih subur, biaya pupuk kimia turun 60%. Ini _zero waste_. Kotoran sapi habis, dapat gas, dapat pupuk, dapat uang,” kata Hariyanto.
Inovasi ini menekan emisi gas metana dari kotoran ternak yang 21 kali lebih berbahaya dari CO₂. Diperkirakan, 35 unit biogas di Kraton mereduksi 126 ton CO₂-ekuivalen per tahun.
Raih Kalpataru 2012.
Atas konsistensinya selama 4 tahun, Kementerian Lingkungan Hidup mengusulkan H. Hariyanto sebagai penerima Kalpataru 2012. Ia menerima penghargaan langsung dari Presiden SBY di Istana Negara pada 5 Juni 2012, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
“Penghargaan ini milik warga Wonosari. Tugas saya sekarang menularkan ilmu. Target 2026, satu Desa satu biogas,” tegasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan, mengapresiasi. “Pak Hariyanto bukti nyata ekonomi sirkular dari desa. DLH Pasuruan akan replikasi model ini ke kecamatan lain lewat Dana Desa,” katanya.
Saat ini, H. Hariyanto aktif melatih pesantren dan kelompok tani se-Jawa Timur. Ia juga mengembangkan biogas portable dari drum plastik agar bisa diadopsi peternak kecil.
*Biodata Singkat*
Nama: H. Hariyanto
Usia: 62 Tahun
Alamat: Dusun Krajan, Desa Wonosari, Kec.Tutur, kabupaten Pasuruan
Prestasi: Kalpataru 2012 Kategori Perintis Lingkungan
Motto: “Sampah kandang, berkah di dan barokah
Tulis Komentar