Keterangan Gambar : Peserta Seminar muswil ICMI Jatim Foto bersama
Muswil ICMI Jawa Timur 2026: Prof. Arif Satria Ajak Cendekiawan Bangun Peradaban Berbasis Riset, Integritas, dan Karakter
Surabaya, 4 Juli 2026 – Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur yang diselenggarakan pada Sabtu, 4 Juli 2026 berlangsung dengan semangat membangun peradaban bangsa melalui penguatan ilmu pengetahuan, inovasi, dan karakter. Dalam arahannya, Prof. Arif Satria menyampaikan sejumlah pesan strategis yang menjadi bekal bagi para cendekiawan Muslim dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Prof. Arif Satria, kemajuan suatu bangsa tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dibangun melalui budaya ilmu yang kuat. Ia mencontohkan Jepang sebagai negara yang mampu bangkit dan menjadi salah satu negara maju di dunia karena memiliki komitmen yang tinggi terhadap Research and Development (R&D) atau riset dan pengembangan.
"Budaya iqra' harus diterjemahkan menjadi budaya membaca, meneliti, menemukan, dan menciptakan inovasi. Tanpa riset, bangsa akan tertinggal dalam persaingan global," ungkapnya.
Beliau juga menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk hati. Akhlak yang baik menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kecerdasan spiritual dan sosial agar melahirkan pemimpin yang amanah serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam paparannya, Prof. Arif Satria mengangkat konsep Ulul Albab, yaitu manusia yang mampu memadukan dzikir dan pikir. Sosok Ulul Albab bukan hanya memiliki keluasan ilmu pengetahuan, tetapi juga kedalaman spiritual serta kepedulian terhadap lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa keseimbangan merupakan hukum alam yang harus dijaga. Dalam ekosistem, setiap makhluk memiliki fungsi masing-masing sehingga manusia tidak boleh merusak keseimbangan tersebut. Pembangunan harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan sebagai amanah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Selain itu, Prof. Arif Satria mengajak seluruh peserta Muswil untuk tidak melupakan sejarah. Keteladanan Rasulullah SAW, perjuangan para pahlawan bangsa, serta karya para ilmuwan dan penemu dunia harus menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan belajar dari pengalaman masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Beliau juga menekankan pentingnya melahirkan SDM yang inovatif. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi yang rumit, tetapi juga kemampuan menemukan solusi atas persoalan masyarakat. Inovasi harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan ekonomi nasional, serta kemajuan peradaban bangsa.
Pada bagian akhir arahannya, Prof. Arif Satria memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya integritas dan karakter. Menurutnya, kedua hal tersebut merupakan modal utama pembangunan bangsa. Pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini melalui keluarga, PAUD, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
"Fondasi moral, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan akhlak mulia harus dibangun sejak anak-anak. Karakter yang kuat akan melahirkan pemimpin yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa maju pada tahun 2045," tegasnya.
Pesan-pesan tersebut mendapat perhatian besar dari para peserta Muswil ICMI Jawa Timur. Para cendekiawan sepakat bahwa tantangan masa depan memerlukan kolaborasi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat budaya riset, inovasi, pendidikan karakter, dan kepemimpinan yang berintegritas.
Bagi ICMI, arah pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada kemajuan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan manusia yang unggul. Cendekiawan diharapkan menjadi pelopor perubahan, penghasil gagasan, penggerak inovasi, dan penjaga nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Enam Pesan Strategis Prof. Arif Satria
Perkuat budaya riset (R&D) sebagai kunci kemajuan bangsa, meneladani negara-negara maju seperti Jepang.
Bangun keseimbangan akal dan hati, sehingga ilmu pengetahuan melahirkan akhlak dan kemaslahatan.
Menjadi insan Ulul Albab, yang memadukan dzikir, pikir, dan kepedulian terhadap kelestarian alam.
Menghargai sejarah dan keteladanan Rasulullah SAW, para pahlawan, serta para ilmuwan sebagai inspirasi membangun bangsa.
Melahirkan SDM yang inovatif agar setiap karya memberikan manfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Menanamkan integritas dan karakter sejak usia dini, karena kualitas moral generasi muda akan menentukan keberhasilan Indonesia Emas 2045.
Reporter: Subari, S.E., M.Pd.
Pengurus ICMI OPD Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
Tulis Komentar