Keterangan Gambar : Istighotsah di masjid Baiturrahman Lumbang
Lumbang, wartapro. Com
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan kembali menggelar I Istighosah Jumat Legi rutinan, pada Jumat 5 Desember 2025 M / 14 Jumadil Akhirah 1447 H. Giliran rutinan di daerah Lumbang.
Acara ini dihadiri oleh warga nahdliyin, dan pengurus Badan Otonom (Banom), Lembaga, Majelis Wakil Cabang (MWC), hingga Pengurus Ranting NU se-Kabupaten Pasuruan ini bertempat di Masjid Baiturrahman, Desa Cukurguling, Kecamatan Lumbang.
Acara diawali dengan pembacaan Istighosah yang dipimpin langsung oleh Pj. Rais Syuriyah, KH. Ma’sum Hasyim, dilanjutkan dengan pembacaan Hizib Nashor yang dipimpin oleh Katib Syuriyah, KH. A. Faisol Amrulloh. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan hasil keputusan Bahtsul Masail oleh PC Lembaga Bahtsul Masail NU (LBM NU) Kabupaten Pasuruan.
Puncak acara ditutup dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan, KH. Imron Mutamakkin. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada seluruh korban bencana yang terjadi di berbagai wilayah, termasuk di Sumatera dan daerah lain di tanah air.
Sementara itu ketua ikatan sarjana Nahdlatull Ulama kabupaten pasuruan, Dr. H. Ahmad Adip muhdi, mengajak warga NU dan sarjana ya g tergabung di ISNU ikut peduli terhadap lingkungan. mengantisipasi berbagai bencana alam yang akan terjadi kemungkinan terjadi lebih besar merupakan dampak dari ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Beliau mengutip firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Sementara Dalam sorotannya terhadap isu kerusakan alambterjadi karena ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.
“Menurut Imam al-Ghazala, tindakan memotong ranting pohon tanpa tujuan yang benar dan bermanfaat termasuk kategori kufur nikmat, sebab pohon dengan segala bagian yang Allah ciptakan mengandung manfaat ekologis dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia,” ujar beliau.
“Memotong ranting secara sembarangan sama halnya dengan menyia-nyiakan nikmat yang dianugerahkan Allah, karena menghilangkan manfaatnya dan menyalahi prinsip syukur atas ciptaan-Nya. Sikap demikian adalah bentuk pengingkaran nikmat (kufr al-ni‘mah) yang berpotensi menyeret manusia pada kerusakan (fasad) di muka bumi,” tegasnya.
Sementara gus Ipong dalam sapaanya, menegaskan dalam tausiyahnya berpesan sederhana namun mendalam: “Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan,” sebagai pengingat agar manusia senantiasa menjaga keseimbangan dan tidak melampaui batas dalam memanfaatkan nikmat alam. (Dip/sob)
Tulis Komentar