Keterangan Gambar : Satu abad mengenang KH. Syaikhona Cholil
Bangkalan - wartapro. Com
Mengenang Adab dari Syaikhona Kholil ( Haul ke 1 abad Syaikhona 1925-2025 )
Selama ini banyak yang memandang Syaikhona sebagai sosok waliyullah pemilik ribuan karomah, yang seringkali perilakunya tidak bisa dinalar akal orang-orang biasa. Syaikhona juga dikenal sebagai salah satu Inspirator berdirinya NU, seorang "murobbi" sejati yang murid-murid didiknya berhasil menjadi ulama-ulama besar yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Nusantara.
Disini saya akan membahas tentang ribuan karomah dan keajaiban yang dimiliki Syaikhona, selain karena memang sudah banyak yang menceritakannya, saya raso terlalu banyak membahas bab karomah hanya akan membuat kita berasumsi bahwa Syaikhona adalah sosok yang tak bisa dijangkau dan sulit sekali dijadikan panutan. Toh padahal tujuan utama kita mengkaji sejarah seorang ulama adalah untuk meneladani tindak-lampahannya. Saya hanya akan menunjukkan satu "kunci" dimana dia Syaikhona bisa meraih dan menggapai semua kemuliaan yang terus mengalir sampai detik ini, dimana dengan "kunci" itu Hingga saat ini nama Syaikhona Kholil masih sangat diagungkan, ribuan peziarah juga memadati "pesarean" Syaikhona tiap harinya.
"Kunci" kemulian itu adalah Adab. Adab mulia Nar luhur adalah hal yang paling menonjol dari sejarah hidup seorang Syaikhona. Dimulai dari masa-masa beliau menuntut ilmu. Ketika nyantri di Pasuruan, Setiap memasuki Kawasan pesantren ponpes Cangaan Bangil (setelah berjalan kaki sepanjang 7Km dari Kebon Candi setiap harinya) beliau selalu mencopot sandalnya sebagai wujud ta'dhim terhadap para Masyayikhnya.
Ketika Mondok di Genteng Banyuwangi, Syaikhona berkhidmah penuh kepada sang guru KH. Alodhul Bashir. beliau mengisi bak mandi, mencuci pakaian, mencuci piring dan memasak untuk Sang kiai. Beliau juga bekerja sebagai pemetik buah kelapa dengan upah 3 sen setiap 80 pohon. dan yang lebih menakjubkan, Syaikhona sama sekali tidak memakai sepeser-pun dari hasil jerih payahnya itu, semua uang penghasilannya beliau persembahkan untuk gurunya, untuk makanan sehari-harinya Syaikhona lebih memilih untuk mengambil makanan sisa kiainya.
ketika Syaikhona menuntut ilmu di Mekkah. Ketika berguru kepada Syaikh Muhammad Arrahbini yang merupakan seorang tunanetra, setiap malam Syaikhona sengaja tidur di pintu Musholla Sang Guru, dengan harapan dia akan menginjaknya ketika memasuki pintu musholla, lalu Syaikhona terbangun dan menuntun gurunya menuju pengimaman. Di Makkah ,Syaikhona yang terkenal memiliki tulisan yang indah sering menulis kitab Alfiah dengan tangannya sendiri juga menjualnya dengan harga 200 Ryal per-kitab. Seperti ketika mondok di Banyuwangi, Lagi-lagi hasil jerih payahnya itu beliau dipersembahkan untuk para gurunya, sedangkan untuk makanan sehari-harinya, Syaikhona lebih memilih untuk memungut dan memakan kulit-kulit semangka.
Masih pada fase pendidikan Syaikhona di Mekkah, Adab luhur yang menjadi prinsip beliau disana adalah, beliau sama sekali tidak pernah membuang hajat di tanah Suci Mekkah. Untuk menghormati Kota kelahiran Kanjeng Nabi ini, Syaikhona rela berjalan sejauh o km keluar dari batas tanah suci untuk membuang hajat.
Tak cukup sampai disitu, ketika sudah menjadi seorang kiai besar yang disegani dimana-mana. Kala itu dia pernah menaiki sebuah dokar, ditengah perjalanan dia bertanya pada si kusir :
"kudanya bagus pak.. Dari mana ?"
“Dari Bima Kiai..”jawab sang kusir.
Mendengar Nama itu beliau teringat akan seorang gurunya di Makkah yang berasal dari Bima. Beliau ingat bahwa gurunya itu mempunyai ratusan ekor kuda. Beliau juga menyuruh kusir berhenti, Syaikhona lekas saja turun dari dokar itu karena beliau khawatir kuda itu adalah salah satu keturunan dari kuda-kuda yang dimiliki oleh gurunya dari Bima, Syaikh Abdul Ghoni Al-bimawy.
Dalam menghormati ilmu dan ulama Syaikhona selalu total dan tak pernah tanggung-tanggung. Setiap hal yang berhubungan dengan ilmu, sekecil apapun nisbat-nya akan beliau muliakan. Kisah beliau dengan kuda dari Bima diatas adalah bukti nyatanya. Beradab tinggi terhadap ilmu dan ulama adalah harga mati bagi Syaikhona, bahkan meskipun ulama itu adalah murid hasil didikan beliau sendiri. serupa dikisahkan oleh Kh. Ahmad Ghazali Muhammad dalam kitabnya "Tuhfah Arrawi", sebelum wafatnya, Syaikhona pernah berkunjung ke Jombang untuk mengikuti pengajian Hadits yang diasuh oleh santrinya sendiri yaitu Kh. Hasyim Asyari di Tebuireng. Tak hanya itu, Syaikhona bahkan mengambil lalu membalik sandal Kiai Hasyim sebelum beliau turun dari musholla layaknya seorang santri yang mengharap berkah dari gurunya !
Syaikh Yasin Bin Isa Al-Fadani dalam kitab yang beliau tulis tentang sejarah Syaikhona Kholil memuat :
dan Layanan Pelanggan yang Dapat Dipakai atau Dioperasikan dengan Baik Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan Layanan Pelanggan yang Tidak Dapat Diatur العارف بالله او الفقيه
“Ketika Syaikhona Kholil hidup beliau telah mencetak lebih dari setengah juta santri dari seluruh penjuru Indonesia, diantara mereka ada 300 ulama yang menjadi referensi di pulau Jawa, Sumatera dan Madura.mereka disebut “Kiai” atau seorang ulama besar, diantara mereka juga terdapat lebih dari 200 ulama keturunan arab yang memiliki gelar “Al-Allamah”, “Al-Arif Billah” atau “Al-Faqih”
di pulau Jawa dan Madura khususnya, sejak beliau wafat hampir semua pesantren yang ada memiliki nasab keilmuan yang bersambung kepada Syaikhona, bisa jadi Didirikan oleh santri beliau, atau oleh santri dari santri beliau.
“santri-santri Syaikhona Kholil” berikut nama namanya.
1.Kh. Hasyim Asyari Tebuireng (pendiri NU)
2.Kh. Abdul Karim (pendiri Ponpes Lirboyo)
3.Kh. Hasan (ponpes Zainul Hasan Genggong)
4.Kh. Zaini Mun'im ( Ponpes Nurul Jadid Paiton )
5.Kh. Abdul Wahhab Chasbullah ( Ponpes Tambak Beras Jombang )
6.Kh. Bisyri Sansuri ( Ponpes Denanyar Jombang )
7.Kh. As'ad Syamsul Arifin ( ponpes Salafiah Syafi'iyah Sukorejo )
8.Kh. Askandar ( Berasan Banyuwangi )
9. Habib Salim Bin Ahmad Bin Jindan ( kakek Habib Jindan Bin Novel Bin Jindan )
10. KH Muhammad Falak bin Abas, Pagentongan Bogor
11. KH Romli Tamim ( Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang )
12.Kh. Abdul Majid (pendiri Ponpes Bata-Bata)
13. KH Abdullah Mubarok – pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya
14.Kh. Tubagus Ahmad Bakri ( Mama Sempur Purwakarta )
15.Kh. Abdul Qadir Hasan (Guru Tuha Martapura Kalsel)
16.Kh. Kholil Harun Kasingan Rembang
17.Kh. Ma'ruf Kedunglo Kediri
18.Kh. Sholeh LatengBanyuwangi
19.Kh. Ilyas Syarqawi ( Ponpes Guluk-Guluk )
20. Kh. Maksum Lasem
21.Kh. Munawwir ( Ponpes Krapyak Yogyakarta )
22. Kh. Bisri Mustofa Rembang
23. Habib Ali Bafaqih Negare Bali
24.Kh. Faqih Maskumambang Gresik
25.Kh. Abdul Fattah Tulungagung
26.Kh. Ahmad Shobari (Mama Ciwedus)
27.Kh. Abbas (ponpes Buntet Cirebon)
Dll ( silahkan tuliskan di kolom komentar nama-nama murid beliau yang belum saya sebutkan )
Santri Syaikhona Kholili yaitu Kh. Ahmad Qusyairi Shiddiq pernah menuliskan tentang sosok gurunya :
“Syaikhona Kholil dalam ilmu nahwu seperti Imam Sibawaih, dalam Fiqh seperti Imam Nawawi, dan dari segi banyak kasyaf dan karomahnya seperti Syekh Abdul Qadir al Jailani “
Tepat hari jumat 11 April/12 Syawal nanti adalah haul 1 Abad beliau, Insyaallah akan diadakan rangkaian acara Majlis Haul Akbar di Masjid beliau di Martajasah, juga akan ada launching kitab beliau yang baru saja ditemukan oleh Tim Turots. Untuk ruh mulia beliau, Al-Fatihah. (Red/sob)
* Ismael Amin Kholil, Katib Tim Turots Syaikhona Kholil, 9 April 2025
Tulis Komentar